The White Tiger — Aravind Adiga

Aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dengan terkurung dalam kandang, Nenek. Aku sungguh minta maaf [Hal. 304]

12

Satu fakta tentang India adalah: putarbalikkan pernyataan apa pun yang Anda dengar dari perdana menteri kami tentang negara ini dan Anda akan mendapatkan informasi sebenarnya. [Hal. 16] Novel ini kelewat jujur membusukkan negerinya sendiri. Kau akan kehilangan selera nonton Bollywood yang menampilkan adegan penyucian diri di Sungai Gangga ketika mendapati kebenaran bahwa sungai berwarna hitam itu penuh dengan potongan mayat, limbah, dan sampah menjijikkan.

Novel ini sebetulnya berbicara soal perlawanan terhadap nasib. Di India, nasib setiap orang hanya ditentukan dari di mana kau terlahir.

Harimau Putih adalah harimau langka yang hanya lahir setiap satu generasi dalam hutan. Balram–mendapat julukan Harimau Putih itu sudah ditakdirkan menjadi pelayan karena terlahir dari kasta pembuat gula-guladi desa Kegelapan. Begini, karena terlalu banyaknya macam-macam kasta di sana, jadi mereka hanya membaginya dalam dua kategori: kasta rendah dan tinggi. Dia adalah bentuk pemberontakan yang berambisi untuk membebaskan diri dari kandang ayam. Sebuah analogi mengenai kehidupan kelas bawah di India yang rela kehidupannya dipenjarakan dan diatur oleh kaum kapitalis atapuh pihak penguasa. Mereka bahkan menyugesti diri mereka sendiri dan seoah diaminkan oleh Dewa bahwa menjadi pelayan adalah suatu kebanggaan. Apa Anda mengenal Hanuman, Sir? Dia hamba setia Dewa Rama dan kami memujanya di kuil kami karena dia teladan cara melayani majikan dengan kesetiaan, cinta, serta pengabdian penuh. [Hal. 21]

Jika mau diuraikan satu per satu, novel ini mampu membungkus kehidupan social, budaya, agama, dan politik yang carut-marut di  India menjadi satu kesatuan dari sudut pandang si pelayan (supir). Dia menjadi saksi sekaligus pelaku pada akhirnya.

  1. Sosial Budaya

Saya cukup penasaran dengan sistem Matriarki di India. Beberapa film dan serial drama menampilkan sosok nenek (perempuan) sebagai penguasa dalam sebuah keluarga. Begitu pun di novel ini. Kusum, seorang nenek dengan apiknya menguras habis tenaga anak-cucunya demi kepentingan dirinya sendiri.

Selain itu, mahar perkawinan yang dari pihak perempuan kepada pihak lelaki digambarkan sebagai bentuk pemerasan yang dibiarkan begitu saja oleh adat mereka. Saya jadi punya kesempatan untuk membandingkannya dengan daerah saya sendiri, di mana kaum lelaki menyiapkan sejumlah uang tunai ataupun harta benda lain untuk dijadikan panaiq/passorong sebagai syarat sebelum disepakatinya pernikahan. Bentuk penindasan atas nama adat memang ditemukan di mana-mana.

  1. Politik

Kita hampir sama dengan mereka di mana, suap-menyuap antar entrepreneur dengan politikus dilakukan demi kelancaran bisnis. Dan masa pemilu, huff saya cukup malas membahas soal ini. Kita lagi-lagi sama. Saya biasanya mendapati di daerah saya sendiri: mereka membeli suara pemilih atau, mengatur usia anak-anak agar cukup dikategorikan sebagai pemilih.

  1. Agama

Orang India mulai meragukan keberadaan Tuhan/Dewa: 36.000.004. Dan saya menemukan fakta baru bahwa ternyata di sana, muslim termasuk dalam kasta rendah.

Tetapi ada yang harus dibayar mahal ketika Balram membebaskan dirinya.

 

Iklan

Menjaga Hubungan Baik Dengan Para Hantu

Jangan menduga tulisan ini akan mengarah ke hantu komunis atau gerakan yang dianggap kiri lainnya. Tulisan ini murni cerita tentang hantu. Berawal dari cerita keluarga bahwa anak dari tante saya memiliki saudara sepupu yang saudara sepupunya diculik hantu. Disinyalir bahwa hantunya merupakan salah satu jenis kuntilanak dengan ciri berambut panjang kusut, mata berwarna api, dan jari tangan seperti habis mencelup darah–merah segar atau mungkin kecelup di botol kuteks merah. Ini bukan berita bohong. Sumbernya banyak dan terpercaya, mereka menjadi saksi cerita dari mulut ke mulut.

Kampung saya terletak di ujung selatan Sulawesi Barat dengan logat hampir mirip orang Makassar, hanya intonasinya sedikit lebih slow dan sangat mendayu. Sebut saja Polewali Mandar, daerah pelayar ulung beranak pinak. Dan kejadian itu terjadi di salah satu desa tetangga kecamatan saya, untuk menuju ke sana kita harus melewati jembatan besar, belok kanan, terus saja hingga beberapa kilometer kemudian belok kanan lagi, kalau kamu liat sawah, berhenti sejenak siapa tahu ada sapi lewat, anggap saja itu lampu merah, terus lagi sampai kamu melihat tanda perbatasan desa.

Anak perempuan yang diculik itu (saya akan menamainya Cicci saja) berusia sekitar 11 tahun. Sehabis magrib, Mama Cicci menyuruhnya membuang sekantong sampah berisi bangkai ayam. Dengan mengendarai sepeda, Cicci berboncengan dengan si adik menuju pinggiran sungai yang biasa menjadi tempat pembuangan sampah. Beberapa menit kemudian, Cicci pulang ke rumah membawa adiknya dan memarkir sepeda di halaman. Tanpa berkata sepatah dua kata, Cicci kembali pergi dengan berlari. Dia tidak balik sampai beberapa jam kemudian. Keluarga dan warga uring-uringan mencari keberadaan si Cicci. Hampir kampung ditelusuri oleh warga: sawah, kebun, hutan sempit di belakang rumah, dan pinggir sungai. Menurut keterangan warga, mereka sering melihat sekilas bayangan membelah malam secepat kilat di depan mereka atau di antara ranting-ranting pohon. Bayangan mirip Cicci tersebut melayang-layang di udara warga pun terus memburunya.

Mungkin pembaca merasakan seperti cerpen jika gaya penceritaan saya terlalu muluk-muluk seperti di atas. Tapi demi mendapatkan sedikit kesan horror maka saya mohon izin untuk melanjutkannya.

Sekitar jam 12 malam, Cicci masih dengan kecepatan sama melayang ke sana-sini kemudian entah kenapa berhenti di masjid kampung. Ketika Cicci kembali akan berlari melewati dinding tembok seakan meremehkan teori gaya gravitasi yang susah-susah ditemukan Newton, seorang warga dengan keberanianya sigap menangkap lengan Cicci dan menariknya turun dari tembok. Akhirnya Cicci dibawa pulang dengan keadaan lemah tak berdaya, dan pandangan mata kosong. Setelah keadaan Cicci sedikit stabil, dia bercerita soal hantu yang menculiknya itu. Dialah yang memberikan gambaran fisik hantu tersebut karena warga tidak melihat secara jelas fisik si tantek kunti.

Beberapa hari kemudian, seorang warga mengalami kesurupan. Dia mengaku sebagai hantu yang menculik Cicci dan menjelaskan alasan kenapa dia melakukan itu. Ternyata, saat Cicci membuang sampah bangkai, si hantu mengaku “pas kena mukaku cess”. Si tante kunti pun menghadiahi Cicci dengan membawanya melayang keliling desa. Menurut pengakuan Cicci, dia menyadari bahwa dirinya diangkat dari satu pohon ke pohon lain bahkan sempat berhenti di ujung pohon bambu.

Sehabis mendengar cerita tersebut, tengkuk saya mendadak dingin. Bapak saya yang asal usulnya dari kampung banget pernah memberi nasehat kepada saya: ketika kamu membuang sampah tepat waktu magrib, mintalah perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syaitan dan permisilah kepada hantu yang kemungkinan menempati tempat pembuangan sampah tersebut. Bapak saya juga bilang, tempat tinggal hantu itu ada di beberapa tempat: pohon, toilet,  bangunan tak berpenghuni, jembatan, atau tempat pembuangan sampah. Tapi saya bertanya-tanya, apakah hantu di kota betah menempati tempat pembuangan sampah? Masalahnya, sampah di kota berasal dari limbah beracun dan pasti tidak sehat. Berbeda dengan kami di kampung, sampah hanya berupa daun-daun kering, sisa-sisa makanan, atau sedikit jenis sampah organik lainnya, kalau ada non-organik kebanyakan bungkus Indomie. Atau ada baiknya, baik di desa apalagi di kota, kita ikuti saja saran dinas kesehatan untuk menyediakan tempat sampah organik dan non-organik, jadi suatu saat ada bangkai yang harus dibuang tidak mesti ke pinggiran sungai lagi dan kena muka hantu-hantu, kasihan mereka.

Bukan hanya di tempat sampah, hantu juga menghuni rumah sakit.  Latar belakang saya dari tenaga medis, saya sering mendengar cerita horror di rumah sakit tentang hantu yang berusaha berteman dengan manusia. Misalnya saja: pasien tiba-tiba hilang di kamar inapnya, biasanya mereka mengaku ada perawat yang membawanya pergi, atau sebaliknya perawat mengganti cairan infus di salah satu kamar, beberapa waktu kemudian diketahui bahwa pasien yang dimaksud adalah gaib dan yang tersisa hanyalah cairan infus yang menggantung di tiang. Kita sebenarnya tidak tahu apa maksud hantu suka berkomunikasi dengan manusia di rumah sakit. Apakah karena merasa kesepian saja, atau meminta renovasi atas huniannya yang dianggap terlalu gelap dan menyeramkan, bisa juga karena hantu memprotes atas pelayanan kurang baik yang selama ini dia dapatkan.

            Hampir sama dengan adab kepada hantu di jembatan. Sebagian besar warga di sini juga percaya jika sebelum melewati jembatan dengan kendaraan bermotor, klakson lah terlebih dahulu dan ucapkan salam (lagi-lagi harus permisi), agar hantunya tidak kaget-kagetan dan tidak mengikutimu.  Karena selain jembatannya kurang layak dilewati kendaraan sebenarnya, hantu juga bisa menjadi penyebab kecelakaan.

Cerita lain, kakek saya juga pernah memindahkan hantu dari rumah tante saya ke pohon yang berada hutan kecil karena dianggap sebagai penyebab sakit diantara semua saudara sepupu saya yang berjumlah 9 orang. Maaf, kakek saya bukan dukun tapi entah kenapa hubungannya dengan hantu cukup harmonis. Artinya, kakek saya menggusur tetapi memberikan ganti hunian atas apa yang beliau lakukan. Kalau kakek saya menebang satu-dua pohon raksasa di kampung, biasanya beliau memindahkan hantunya ke pohon yang berada jauh di dalam hutan biar lebih tentram dan damai. Tetapi kalau ternyata hantu yang berimigrasi tersebut sempat menghuni salah satu dari 15 miliar pohon yang ditebang manusia tiap tahunnya, apakah sedamai yang dipikirkan kakek.

Sebenarnya kita bisa menjaga keseimbangan alam semesta dengan berhubungan baik dengan para hantu, saya cukup yakin itu. Asal jangan meminta para hantu memasuki tubuh babi dan memintanya untuk mencungkil peti uang di rumah orang saja. Kalau cari duit, tetap urusan kita, cukup bergandeng tangan saja dengan mereka.

Skandal – Shasuke Endo

Kebanyakan diantara kita enggan mengakui kebejatan yang pernah sekali atau sering dilakukan. Tetapi ada juga yang membanggakannya,  bagaikan sebuah prestasi dimana orang lain tidak pasti bisa melakukannya.  Itulah manusia menurut Endo.  Kedua sisi manusia pasti berjalan beriringan. Tetapi jika keburukan itu berkeliaran sendirian tanpa kendali kita, bukankah sangat merepotkan. Haruskah kita mengakui sebagai bagian dari kita atau membantahnya?

“… Setiap orang mempunyai satu wajah yang dipakai dalam kehidupan bermasyarakat, lalu satu lagi disimpan untuk diri sendiri.” [Hal. 235].

Sehabis pulang kerja di jam padat lalu lintas kota Makassar,  saya biasanya duduk di sebuah halte depan Gereja.  Laju kendaraan nampak buru-buru,  seperti dikejar waktu. Ahli penyusup diantara peluang yang ada akan terlihat ketika jam padat lalu lintas tiba.  Jika sudah bosan melihatnya: gerak-gerik yang sama setiap harinya, pengendara yang sama atau, bunyi klaksong yang tidak putus. Saya pasti membuka sebuah novel yang beberapa hari ini mengisi tas saya. Karangan dari Shusaku Endo,  seorang penganut Katolik di Jepang dan menjadikan tokoh utamanya jug aadalah penganut yang sama bernama Suguro.

Bukan hal mudah di masanya,  mengingat sejarah pahit pemeluk Kristen di sana dengan jumlah hanya kisaran 1%.  Hal itu pula yang nampak jelas di novelnya. Bagaimana orang-orang yang mengimani kristen sulit diterima dari sisi ibadah,  pemikiran,  bahkan karyanya. “Kutukan yang menghinggapi Suguro terletak pada fakta bahwa ia harus memberikan Tuhannya seakan-akan ia bisa dipahami dengan latar Jepang sebagai kerangka,  padahal Tuhannya itu merupakan sesuatu yang terlalu kabur untuk bisa dipahami oleh kita,  orang Jepang.” Hal. 8

Lantas saya mengingat sebuah novel Endo sebelumnya: Hening yang sudah diangkat ke layar lebar, bercerita tentang seorang misionaris muda dari Portugis yang berdakwah di Jepang tetapi harus murtad ketimbang menyaksikan pembantaian kaumnya. Saya membayangkan adegan novel Hening melalui cerita Suguro pada istrinya. Saya menengok ke belakang, memandang wajah lukisan Yesus disalib di puncak depan Gereja: roman mukanya tercampur aduk antara ikhlas dan pasrah. Jumat sore,  biasanya kaum ibu-ibu melantunkan lagu doa di samping gereja yang khusus disiapkan untuk mereka latihan. Sembari mendengarkannya,  saya merasakan kegelihsan sekaligus kejujuran di novel ini.

Hal yang paling mengenakkan dari karya sastra adalah jika, ia bisa menggambarkan keadaan dan pola pikir dari daerah yang menjadi latar belakang di cerita fiksinya. Melalui novel ini, kita bisa menilai bahwa meskipun ajaran Kristen sulit diterima, tetapi mereka juga memandang bahwa penganut ajaran itu adalah manuia suci, tidak melakukan dosa layaknya mereka. Itulah yang menjadi beban tersendiri buat penganutnya. Padahal mereka hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin lepas dari kesalahan.

Suguro dibaptis di usia 14 tahun mengikuti jejak ibunya (persis kehidupan Endo yang dibaptis usia 12 tahun mengikuti iman ibunya).  Dia dikenal dengan karya bermoral yang,  kadang dianggap mengajari ke-kristen-an.  Meskipun tidak demikian adanya di pikiran Suguro. Dia berkarya untuk mengungkap sisi kemanusiaan yang tersembunyi saja. Tetapi suatu hari pada sebuah acara penghargaan kesusastraan,  dia dipermalukan oleh seorang perempuan hingga terperangkap dalam skandal yang rumit: sebuah dosa yang tidak mungkin dia lakukan.

Tokoh lain adalah Nyonya Naruse,  tenaga sukarela di sebuah rumah sakit dan menangani kebutuhan anak-anak. Karakternya keibuan tetapi di sisi lain,  dia sungguh mengerikan. Justru karakter Nyonya Naruse lah yang paling menarik di novel ini. Suguro bertemu dengannya di sebuah pameran lukisan di mana wajah Suguro dilukis dengan senyum sumbringah yang kelihatan menjijikkan. Kehidupan seks Nyonya Suguro diutarakan blak-blakan dapat dianggap sebagai dobrakan untuk mengupas hal yang tabu terutam budaya Jepang pada masa itu. Saya tidak pernah bisa membayangkan bahwa ada seorang manusia yang terangsang secara seksual karena membayangkan kekejaman dalam pembantaian manusia yang dilakukan suaminya.  Bau hangus,  jeritan-jeritan perempuan,  suara tembakan, dan bunyi letupan tengkorak terbakar justru membuat dia mengingini seks luar biasa. Jelas,  wanita itu sadomasokis. Dialah yang menuntun Suguro menemukan sosok yang selama ini dicarinya: yang menganggu ketentraman Suguro karena menyerupai dirinya dan berkeliaran di kehidupan yang tidak pantas dia masuki.

Kehidupan dipenuhi dengan hal-hal yang kontras. Menurut saya, itulah yang ingin disampaikan Endo melalui novel ini. Dan sebetulnya saya tidak menyangka kalau ternyata novel ini tergolong realisme magis. Karena kehidupan awal yang nampak biasa-biasa saja. Hidup sebagaimana manusia biasa dengan jalan kehidupan yang masuk akal. Namun pada akhirnya kita disiuguhkan cerita yang mengutak-atik pikiran untuk menafsirkan ceritany sendiri. Tidak heran jika John Walsh mengatakan bahwa Skandal adalah novel yang memesona, mengerikan, dan tersamar. Ditulis oleh pengarang yang memiliki persepsi langka dan kejujuran yang menggelisahkan.

Adzan Maghrib terdengar dari arah barat, saya bergegas menuju Masjid untuk mencari ketenangan dan meninggalkan lagu-lagu doa yang sempat membuat saya merasakan kejujuran. Novel ini saya tutup setelah membaca kalimat terakhir di biografi singkat pengarangnya: kebanyakan tokoh novel Shusaku Endo bergumul dengan dilema moral yang rumit sebagai orang Katolik.

HARAAMKHOR — Sebuah Film Tentang Konyolnya Pengetahuan Reproduksi di India

Sebagaimana cinta, kau bisa melakukan apa saja saat terjebak dalam situasi mengerikan. Kepalamu menuntut untuk segera menyelesaikannya tanpa perlu memikirkan akibatnya nanti.

vlcsnap-2017-09-13-06h08m29s20.png

Seorang murid yang kesepian menjalin hubungan cinta dengan gurunya yang tidak lebih baik dari pengecut di luar sana. Perbedaan usia bukanlah aib, yang salah karena guru itu sudah memiliki istri muda dan malah tidur dengan murid perawannya. Film hasil garapan Shlok Sharma ini sebetulnya tidak berbicara soal cinta. Kisah cinta hanyalah jalan untuk mengetahui hal yang lebih spesifik lagi di India sebut saja soal pengetahuan remaja tentang reproduksi yang masih sangat polos dan berbahaya. Betapa berbahayanya kebodohan. Film ini jelas menyinggung minimnya pengetahuan reproduksi di India. Selain murid perawan yang rela tidur dengan gurunya, singgungan lain terlihat di potongan cerita saat seorang anak medefinisikan pernikahan yang dikiranya bahwa “menikah adalah jika kalian sudah melihat tubuh telanjang satu sama lain”.  Salah satu hal yang membuat film India tidak diminati (dan banyak diminati banyak orang) adalah soundtrack-sountrack yang mendayu serta tari modern-traditionalnya, juga actor/aktris yang kelewat cakep. Kelebihan di film ini adalah kenaturalannya–menampilkan India yang sebenarnya.  Tidak akan ada pasangan yang bernyanyi di tebing, serombongan penduduk yang berjoget di alun-alun, atau adegan perpisahan di stasiun kereta. Dan kamu tidak akan menemukan Sakhrukh Khan di sini. Tapi tenang saja, acting dari aktornya menurut saya pribadi jauh lebih bagus, dia salah satu favorit saya di sana—Nawazuddin Siddiqui.

Masih ada dua tokoh lagi yang ikutan di antara mereka: penganggu, pengusik, pengintai, tetapi tidak punya salah apa-apa di cerita itu yang pada awalnya saya selalu mengira untuk apa mereka terlibat di dalamnya selain menghibur penonton selain menambah deretan kebodohan tentang reproduksi.

vlcsnap-2017-09-13-06h04m31s191.png

Mereka dua remaja lelaki yang bersahabat bagai sandal jepit, kemana-mana selalu bersama. Seorang diantaranya mendambakan gadis itu, dan tentu saja seorang lagi sebagai sahabat membantu dengan segala macam cerdik yang sayangnya tidak pernah berhasil malah lebih sering mendatangkan masalah. Banyak hal konyol yang dilakukan mereka, kontras dengan gadis kesepian itu, padahal perbedaan usai mereka tidak terlampau jauh. Ya, begitulah cinta yang tidak berbalas. Saya tentu saja tidak akan melakukan spoiler di sini, itu menganggu kode etik. Saya Cuma menyarankan agar kalian bersiap dengan segenap hati menyaksikan ending-nya karena ada hal yang sangat mengejutkan di tengah derasnya air hujan.

 

Percakapanku dengan Malaikat Pencabut Nyawa

Lewat separuh malam sebelum kedai tutup dan aku tengah membereskan meja di teras, malaikat itu menampakkan dirinya dan segera memintaku untuk membunuh seseorang. Aku mengaku bahwa kadar ketakwaanku kepada Tuhan menurun drastis sejak bekerja di kota ini, tetapi tetaplah aku sedikit percaya pada apa yang dikata Bapak di kampung dulu kalau, malaikat itu bisa menjelma sebagai manusia untuk tujuan tertentu. Tetapi sangat aneh jika pencabut nyawa sendiri harus memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan pekerjaannya.

Dia malah datang selayak manusia biasa yang masuk ke teras kedai kemudian mendaratkan pantatnya di salah satu kursi dan memanggilku untuk meminta menu. Singkirkan bayangan tentang sosok yang mengendarai angin lalu  muncul di hadapanku dalam sekejap. Jika kemunculannya begitu, pastinya aku sudah tidak bercakap dengannya sekarang karena keburu pingsan.

“Maaf, Pak. Kedai kami sudah tutup.” Aku menunduk dengan sopan sembari mencuri pandang pada kepala botak licinnya yang mengilap karena disapu cahaya remang dari lampu kuning.

“Kalau begitu, tunggu saya selesai minum. Saya cuma mau pesan kopi hitam tanpa gula.” Kerlingan matanya sungguh menjijikkan, seperti lampu jalan yang tengah sekarat “Lagi pula di luar sedang hujan deras.”

Segera kualihkan pandanganku ke jalan. Benar saja, di luar sedang hujan lebat seakan setiap tombak airnya mampu membocori jalan beraspal dan suara terpaannya sungguh mengerikan. Hujan itu baru saja turun selepas dia berbicara di luar sedang hujan deras seolah menuruti perintah atau dipanggil untuk segera menghadap. Untunglah, atap teras lumayan memanjang ke depan. Kalau tidak, pastinya kami akan mengangkat meja dan kursi ke dalam kedai yang jumlahnya tidak sedikit.

“Hmmm, tunggu sebentar kalau begitu, Pak.”

Secangkir kopi hitam kuletakkan di mejanya setelah sedikit memaksa pada barista untuk tetap membuatkan kopi di luar jam kerja. Karena aku menunduk dan mukanya lebih dekat ke mataku, beberapa helai bulu hidung mencuat dari dua lubangnya. Ada apa dengan rambut di tubuhnya? di kepala, mereka rontok sedangkan di tempat lain mereka menyombongkan diri.

“Aku punya permintaan.” Dia sengaja menergurku sebelum bunyi serut air hasil dari bibir dower-nya menghisap sedikit kopi di pinggiran cangkir.

“Maaf?”

“Duduklah.” Entah kenapa aku sedikit canggung atas permintaannya. Tidak biasanya aku menghadapi laki-laki seperti ini.  Bermodalkan ganjen, biasanya dengan mudah aku bercakap dengan pelanggan di luar Menu Kedai, maksudku, kau tahulah perempuan semuda aku yang tidak memiliki sanak keluarga di kota dan menerima upah yang pasti habis sebelum akhir bulan akan mencari pendapatan lain yang cepat dan mudah.Tetapi hari ini aku masih punya duit, setidaknya masih bisa isi perut sampai seminggu ke depan. Lagi pula aku tak meminta pelanggan pada Entang, seorang “Mami Frilens” begitu julukannya, rada-rada kebulean yang tentu saja aku tak tahu artinya.

“Aku tidak minta kau main-main dengan tongkatku.”

Aku tersentak mendengarnya, bukannya sedari tadi aku hanya bercakap pada diriku sendiri.

“Ahhh, kau mulai gatal lagi.” Dua jarinya dimasukkan ke dalam hidung lalu mencabut sehelai bulunya yang mencuat. Setelahnya dia mengangkat dagunya lalu menyeretku ke dalam matanya. Sungguh dia menatapku dengan kesombongan karena lagi-lagi mengetahui isi kepalaku.

Meninggalkannya di sini akan lebih baik, tak usah aku berhadapan dengan dukun aneh macam dia. Namun sesaat sebelum pantatku terangkat, terdengar ucapannya mencegahku “Tidak usah takut, saya ke sini demi kepentinganmu. Lagi pula saya bukan dukun.”

“Kau siapa?” Tak pernah aku menemukan seorang laki-laki dengan tampang seburuk dia, artinya besar kemungkinan dia bukan manusia biasa atau jangan-jangan setan dari kuburan yang berada di samping kompleks perumahan mewah di tepi kota lalu berkeliaran ke sini karena kesepian.

“Sudahlah, duduk saja. Malam ini, saya sebenarnya buru-buru untuk pulang tapi karena teman seangkatanku yang punya urusan di sini diutus ke luar kota demi urusan lain, saya harus menggantikannya,” Bengkokan lehernya menunjuk kursi di depannya seolah memerintahku untuk kembali duduk di tempatku semula.

“Begini, saya Malaikat Pencabut Nyawa.” Seakan tahu bahwa aku ingin bertanya ulang karena mungkin saja pendengaranku yang tidak jernih, dia buru-buru melanjutkan  “Iya, Malaikat Pencabut Nyawa,” Dia mengucapkannya pelan dan menegaskan setiap hurufnya.

“Kau harus percaya karena saya tak punya banyak waktu untuk menjelaskan, sungguh saya mau istirahat, baru saja sebuah bus tergolek ke jurang, saya harus mengurus semua nyawa manusia di dalamnya. Ahhh untung saja nenek itu tidak ditakdirkan mati, kau tahu, sungguh merepotkan kalau manusia panjang umur yang mati, pengurusan dokumennya terlampau tebal.” Dia memperagakan dengan kedua telapak tangan yang saling menghadap kemudian dijauhkan ke sisi atas dan bawah, sekitar setengah meter tebal renggangan keduanya.

Memang, berita itu gempar tadi sore. Sebuah bus menabarak pembatas jembatan dan terbang ke jurang. Tetapi yang aku dengar semuanya mati karena bus terbakar setelah mendarat.

“Tidak, nenek itu masih hidup. Dia sekarang di rumah sakit dengan luka bakar di sekujur tubuhnya. Ahhhhh, mudah-mudahan bukan saya nantinya yang mendapat kiriman perintah untuk mengurus nyawanya kalau ternyata dia mati juga nantinya.” Seakan ada yang mengingatkannya, perhatiannya kemudian terjurus padaku. Matanya tajam, “Kau harus membunuh seseorang, namanya sudah terdaftar di tanganku, takdirnya malam ini dia harus mati tetapi belum juga ada tanda-tanda menuju kematiannya. Dia sehat-sehat saja, tetapi Tuhan sudah menyuruhnya mati dengan alasan apapun dan sampai sekarang dia belum berniat bunuh diri. Menjengkelkan, bukan?”

“Begini, kalau kau masih tidak percaya bahwa saya Malaikat Maut,” Sekedip mata, pakaiannya berubah menjadi serba hitam. Ada kerah baju yang meninggi menutupi tengkuknya, sebuah topi mirip caping di atas kepala botaknya, bulu hidung itu panjang dan membelok ke tepi bibir. Kalau tak diperhatikan dengan saksama, bulu hidung itu mirip kumis. Dengan was-was aku memperhatikan sekitarku.

“Mereka tidak bisa lihat perubahanku.”

Kutempelkan erat pantatku di kursi, pandanganku terpaku pada sosoknya di hadapanku. Entah kenapa hal mengerikan di depanku tidak membuatku berkeinginan untuk lari.

“Lalu, bukannya Tuhan bisa membuat manusia mati kapan saja?”

“Segala sesuatunya butuh alasan, bahkan takdir Tuhan.” Pundaknya bergetar karena tertawa. Mungkin pertanyaanku tadi dianggap lelucon. Raut mukanya saat tertawa mirip Boboho saat kentut.

“Kenapa harus aku yang membunuhnya, kenapa bukan kau saja? Bukannya kau Pencabut Nyawa?”

 “Kami tidak bisa melakukannya, bukan tugas kami yang menakdirkan seseorang mati, kami hanya mengurus roh yang terlepas dari tubuhnya.”

“Kalau begitu nama kalian sebetulnya tidak cocok.”

“Sudahlah, bukan hak manusia mengurus nama kami. Kau harus membunuhnya, dia bekerja di sini.”

“Dengan cara apa aku membunuhnya? Aku takut darah.”

“Bohong kalau kau takut darah, kemarin kau membunuh kucing yang melahap sisa ikan di kosmu. Kau memukulnya dengan batang sapu tepat di kepalanya, waktu dia sulit bangkit, tanpa berpikir kau menusuknya dengan pisau dapur lagi. Kau sendiri kan yang mengurus darahnya yang berceceran.”

“Kau melihatnya?” Dia cengengesan karena berhasil menguak kebohonganku. Kalau kucing memanglah aku tega, lagi pula kucing itu sudah lama menjengkelkan. Setiap makanan enak yang kubeli dengan mengorbankan jatah makan enakku keesokan harinya, dia selalu mencuri sisa makanan itu padahal aku sengaja menyimpannya buat waktu makan selanjutnya.

“Aku tidak melihatnya, sebuah dokumen masuk ke tanganku dan menceritakan riwayatmu. Orang yang akan mati malam ini berhubungan denganmu jadi mau tak mau riwayatmu juga ikut dengannya.”

“Kalau aku tidak membunuhnya?”

“Kau akan hidup sengsara seumur hidup. Hidupmu tetap miskin bahkan tambah miskin, tuamu melarat dan tidak ada yang sudih mengurusmu. Nantinya pun kau tak akan mendapat pelanggan lagi. Beberapa tahun lagi, kedai ini bangkrut. Kau tidak bisa mendapat kerja selain mengemis.”

Setelah mengubah pakaiannya semula, dia kembali menatapku tajam dan mencondongkan mukanya ke hadapanku. “Gampang saja membunuhnya.”

“Kenapa dia harus mati?” Aku sudah dapat melebur dengan perintahnya terlebih ancaman menyedihkan semacam itu. Hujan masih turun dan malam semakin mengirimkan dinginnya menembus kedua celah pahaku yang hanya tertutup rok mini. Angin tipis membelai kulit di pinggiran celana dalamku.

Anehnya, dia tidak menjelaskan secara detail tentang hal-hal yang harus aku lakukan setelah dia menghabiskan kopi dan meninggalkan tempat ini. Setengah cangkir kopinya sudah tandas. Sebentar juga katanya aku harus menyiapkan pisau paling tajam untuk menggorok salah satu batang di tubuh orang yang akan mati itu. Aku heran pada diriku sendiri. Tak ada rasa takut apalagi sedih jika salah satu orang yang bekerja di kedai ini mati di tanganku sendiri. Malah rasanya ingin segera aku mengakhiri percakapan dengan Malaikat Pencabut Nyawa ini demi bisa pulang dan berisitirahat tenang di kasur lapukku.

“Dia tidak berguna untuk orang lain. Jatah napasnya mending diberikan kepada orang yang sakit asma, begitu kata Tuhan.”

“Usianya dua puluh empat tahun dan bodoh.” Aku menimbang-nimbang siapa yang seumuran denganku di kedai ini. Oh si Kamir, aku ingat persis angka lilin yang tertancap di kue tar di bulan lalu yang dibuatkan pacarnya. Pacar yang malang, siapa yang akan mengawini perempuan bekas barista itu. Tunggu, si Ayu yang di dalam sedang pasti menghitung duit omset hari ini juga berusia denganku. Kalau begitu siapa yang harus mati? Mudahn-mudahan saja si Ayu, iblis betina itu kerap menyisipkan duit ke kantongnya sehabis menghitung keuntungan.

“Hhahahaha kenapa kau yang terburu-buru.”

“Tunggu, bagaimana kalau aku masuk penjara?”

“Aku jamin kau tidak akan mencium sel-sel busuk itu.”

Lanjutnya, “Dia hanya memikirkan isi perutnya saja. Saking tidak bergunanya, orang itu bahkan tidak pulang kampung saat,” Malaikat Pencabut Nyawa itu seakan menimbang-nimbang ucapannya “Ahh sudahlah. Dunia tidak membutuhkannya, hanya mengotori saja.” Dia menatap ke pekat hujan dan seperti menimbang-nimbang ucapan selanjutnya. “Dia bahkan tidak mengurus dirinya sendiri. Jelek, hitam. Wajar saja, dia dibayar murah oleh pelanggan yang kau sebut di luar Menu Kedai.”

Seandainya kau bisa melihat wajah sumbringahku, mungkin mirip wajah Omas yang tengah jatuh cinta. Benar saja, si Ayu yang bakalan mati. Dari semua perempuan yang bekerja di kedai ini, siapa sih yang tidak menjual dirinya. Dialah yang mengajariku, lalu aku mengajari pendatang baru. Ilmu ini turun-temurun. Tetapi memang iblis betina itu sungguh doyan duit atau mungkin doyan kelamin. Hampir tiap malam setelah bekerja dia dijemput laki-laki beda, tetapi semuanya memang memiliki tampang menjijikkan. Kalau bukan supir taksi gempal, paling tukang ojek yang seperti habis ngantar tante kunti, kusutnya minta ampun.

“Kalau kau selesai membunuhnya, hidupmu akan berubah total, berputar seratus delapan puluh derajat!”

Meski tak mengerti seratus delapan puluh derajat itu putarnya sampai mana, aku tetap senang mendengarnya. Mungkin maksud dia aku tidak akan kere lagi, atau punya suami tajir, atau punya kedai sendiri dan tidak menjadi pesuruh seperti ini lagi dan makan daging setiap hari. Daging yang masih dipanggang kemudian diolesi berbagai macam bumbu pedis. Ahhh, membayangkannya saja menyenangkan.

 Malaikat itu terdiam lama karena menghayati setiap sesapan kopi. Aku melihat hujan belum juga turun, rintik-rintik yang mirip tombak itu berubah menjadi indah di pandanganku. Kubayangakan nanti di jalan tepi jalan itu, aku turun dari mobil sembari membuka payung besar, menaungi tubuhku yang berpakaian mini ketat dan sepatu berhak tinggi mirip kepunyaan Syahrini. Bling.

“Cepatlah habiskan kopimu, bukannya kau ingin istirahat?”

“Setiap hari orang itu mengkhayal terlampau tinggi, padahal dia tidak bertindak apa-apa. Wajar saja sebenarnya manusia mengkhayal, toh tidak ada bayarannya. Tapi yang bikin Tuhan kesal itu karena dia tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkannya. Asal dia makan itu sudah cukup. Padahal Tuhan memberikan dia hidup untuk mengemban amanah, amanahnya mudah, jadikanlah hidupmu berguna. Itu saja.”

Aku mengangguk pelan dan sedikit tergugah. Perkataannya seperti Bapakku dulu waktu aku masih kecil. “Oh ya, kau yang mengurus roh Bapakku? Gimana dia sekarang?”

“Bocoran sedikit, Bapakmu masih nunggu pertimbangan Tuhan, dia dihantar ke surga, atau dilempar ke neraka.”

“Loh, kenapa? dia rajin sembahyang, rajin ngaji. Semestinya Tuhan penuhi janji dong.”

“Itu rahasia.”

Aku mengenang hidup Bapakku yang menderita sampai ajalnya. Miskin dan punya dua anak sebebal kami. Kakakku yang cuma tahu mabuk dan aku yang suka keluyuran bahkan saat kematiannya, aku tidak pulang ke kampung. Takut kalau Emmak bakal melarangku balik ke kota. Setiap hari kerjaannya menyapu masjid, ngaji, sembahyang. Ternyata menjadi baik pun tak menjamin hidup enak nantinya kalau sudah di akhirat. Saya kira Bapakku sudah punya istri bidadari di surga.

“Cepatlah habiskan kopimu, katanya buru-buru.”

“Baiklah.” Sembari memperlihatkan cangkir yang tidak menyisakan ampas.

                Dia meminta diri dengan sangat sopan seperti menyalami bos saja.

Sebelum aku ikut bangkit dari kursiku, dia kembali menyahut “Orang itu bukan Ayu, tapi yang jelas dia perempuan.”

Bukan Ayu? Lalu?

 “Kalau kau tidak sanggup membunuhnya, kau harus terima masa depanmu.” Aku tidak bisa menanggapi ucapannya.

Pakaiannya kembali berubah menjadi serba hitam “Jangan lama-lama, saya buru-buru, kau punya waktu sebelum ayam berkokok.”

[End]

 

Bagaimana Cara Kita Bertegur Sapa?

Kau bilang ini adalah insting dari macan betina. Bukan sayang, ini adalah insting dari seorang pecinta. Aku mendiaminya cukup lama dan kau merasa tak terjadi apa-apa padahal sesuatu telah merembes, yang lebih membanjiri setelah hujan badai. Mungkin kau merasakannya tetapi enggan menjadikannya sebagai pembicaraan disaat kita terlihat baik-baik saja. Sebetulnya aku juga bersikap seperti itu, tetapi maaf, jemariku tidak berbakat menyimpan rahasia, mereka bergerak, memencet tombol keybord, aku tak bisa menolong diriku sendiri dari ini.

Beberapa hari ini aku merasa dadaku menyimpan sesuatu yang berlebih. Aku tidak tahu apa yang saling berdesakan di dalam sana, mereka tidak bisa berkata-kata, aku hanya bertugas merasakannya.

Kau tampak asing sekarang dan, akupun menjadikan diriku lebih tertutup lagi. Lalu bagaimana cara kita saling bertegur sapa? Kita seperti petualang yang berjumpa di persinggahan kemudian akrab beberapa saat, beberapa tahun kemudian mereka tidak saling mengenal meskipun bertemu di kota kelahiran yang sama.

Mengalihkan Perkara Toleransi ke Upin Ipin Saja

Jika kalian lelah atau mungkin bosan menyaksikan media di tipi yang diisi dengan pemberitaan itu-itu mulu dan sering kali malah menjadi pemicu tekanan darah pendek bagi segolongan kaum yang merasa benar lantas menyalahkan kaum tertentu, marilah kita sejenak memencet tombol remote dan beralih ke hal lain. Ketika saya melakukannya, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah si kembar berkepala botak yang cara membedakannya adalah cukup mudah, tinggal melihat jambul dan warna bajunya. Bagi kaum wanita yang memiliki angan-angan panjang, kelucuan budak-budak tu (baca: anak-anak) mirip khayalan kami, asal jangan persis tubuhnya sebab kalau saya membayangkan, saya akan menyangka mereka menderita Hidrosefalus— kelebihan cairan di kepala sehingga menyebabkannya ukurannya tak seimbang dengan tubuhnya.

Bagi teman-teman yang belum mengetahui keberadaan mereka (kemana aja kalian?) atau tidak berkesempatan berkenalan dengan budak-budak tuu, mari saya bawa Anda ke Kampoeng Durian Runtuh!

Upin Ipin berkawan dengan banyak budak-budak lainnya di sana. Selain dari sesama Melayu, juga beberapa diantaranya adalah berasal dari ras berbeda: Cina, India, dan Indonesia. Kalau bosan dengan pertengkaran karena perbedaan SARA, bagaimana kalau kita ramai-ramai hijrah saja ke Kampoeng Durian Runtuh lantas berteman dengan Upin Ipin, meninggalkan segala macam kerumitan dan tinggal di kampung yang aman nan damai, tidak mengolok-ngolok tradisi dan budaya kawan-kawannya.

Suatu waktu saya sedang nonton episode “Opera Cina”. Opera yang dilaksanakan tepat pada Bulan Hantu , dimana menurut kepercayaan orang Cina bahwa pada bulan itu pintu syurga dan neraka  dibuka lebar lantas orang yang telah meninggal turun ke bumi. Jadi bagi Tionghoa yang masih hidup, mereka memberi makanan dengan cara meletakkan buah-buahan di depan rumah mereka yang sunyi, hal ini sebagai bentuk saling mengasihi sesama makhluk Tuhan. Buah-buahan tersebut dipercaya akan dimakan oleh para hantu. Macam ini mirip dengan yang saya lihat sewaktu mengunjungi salah satu tempat wisata di kampung saya. Dua butir telur dan sepiring songkolo (olahan dari beras ketan) diletakkan di gua kecil yang berbatasan dengan pantai. Seandainya saya tidak menyadari bahwa makanan tersebut diniatkan kepada para penunggu tak kasat mata dengan tujuan agar mereka menjadikannya sarapan, makan siang, dan makan malam, lantas mereka tak repot menelan korban jiwa di sekitar pantai, saya pasti akan melahap habis makanan kesukaan saya itu.

Maaf, saya jadi sempat berkeliaran ke kampung saya sendiri, kita kembali ke Kampoeng Durian Runtuh saja. Sebagaimana bocah pada umumnya, Upin Ipin punya rasa penasaran terhadap pemandangan menakjubkan denganadanya buah Jeruk Cina yang diletakkan di depan rumah salah seorang kawan Tionghoanya–Meimei.

“Ihh ada buaahhhh, siapa punya ni?” Karena tergiur ciri bau dari jeruknya, nyaris saja mereka mengambilnya sebelum Meimei berteriak garang kepada mereka:

“Letak balik letak balik. Itu semua hantu makan punya. Kamu tau tak, ini bulan hantu, semua hantu boleh jalan-jalan keluall.”

“Hantu?” sontak Upin Ipin saling pandang. Meimei menceritakan tentang Bulan Hantu yang kemudian membuat Upin Ipin lari terbirit-birit pulang ke rumahnya. Sesampainya disana, mereka menanyakan kebenaran atas Bulan Hantu. Nenek dan Kak Ros menjelaskan perihal kepercayaan orang Cina dan bahwa kita mesti hormat pada kepercayaan mereka. Malamnya, mereka turut meramaikan Opela Cina dan merasakan kegembiraan yang sama.

Di episode lain juga pada hari perayaan Pesta Cahaya bagi keturuan India. Uncle Muthu mengalami celaka di sore hari sebelum malam perayaan tersebut. Semua wadah khusus untuk menaruh lilin yang akan disebar mengelilingi rumahnya pecah berantakan di perjalanan menuju rumahnya. Dia meraung sepanjang hari karena merasa perayaan pada malam nanti tidak akan bercahaya seperti biasanya sedangkan wadah tersebut sangatlah langka dan tidak mungkin mendapatkannya dalam waktu kepepet. Karena Upin Ipin adalah anak baik, suka menolong dan rajin menabung, berbeda dengan anak tetangga saya yang jailnya patut meraih penghargaan international, Upin Ipin berusaha menghibur Uncle Muthu dengan berbagai cara termasuk melukis dari pasir warna-warni di berada rumah Uncle Muthu yang membuat Uncle Uthu bisa sedikit meredam kesedihannya. Sebetulnya bukan itu pula yang mau saya cakapkan, kehadiran dua orang dewasa sebagai pemecah masalah muncul dengan ketulusannya. Entah karena diberitahu Upin Ipin atau kabar pecahnya wadah lilin Uncle Muthu tersebar cepat seperti sebaran hoax di Indonesia, si Atok Dalang seorang Melayu asli dan Uncle Ah Tong (dari namanya kita pandai-pandailah menebak sehingga saya tak perlu menjelaskan bahwa dia merupakan keturunan Cina) datang membawa banyak wadah lilin yang serupa ke depan rumah Uncle Muthu dan Uncle Ah Tong bilang sambil membusungkan dada bangga “Kau lupa. Kawan kau ini, baaaaaaaaaanyak koleksi barang langka, aku punya banyak seperti itu.”

Saya cukup terharu melihat persaudaraan diantara perbedaan itu dan dari mendapatkan ide brilian untuk mengumpulkan donlotan bajakannya demi anak saya kelak. Jadi, saya tak perlu repot-repot memaksa mereka belajar PPKN untuk menghafal undang-undang perihal perbedaan suku, bangsa, dan agama. “Cukup nonton itu saja, Nak.”

Serono juga nonton Upin Ipin. Selepas tu, saya menuju ruang dapur sekaligus ruang bergosip dengan keluarga: ada mama, papa dan, adik bungsu. Baru saja pantat saya mendaratkan diri diantara mereka, gosip dari Papa sudah berada di ambang cerita “Kasihan, dia dulunya sukses tapi ditipu oleh Suku Takbernama, yahh dari dulu mah mereka terkenal seperti itu. Tidak bisa dipercaya”.

#Aduh papaaaaa L anakmu baru saja beristirahat dari persoalan SARA.