Mesum dalam Sastra Bukan Suatu Kebetulan atau Pelengkap Semata

Sama seperti sebuah film, karya sastra sebagai cabang ilmu seni menyajikan seks sebagai representasi realitas yang ada di sekitar kita. Meskipun fiktif, sastra kerap hadir untuk membuka fakta yang sering kali ditutupi oleh pihak-pihak tertentu. Dengan mencontek kehidupan yang benar-benar ada, fiksi berhasil dipercaya oleh pembaca. Saking terpercayanya, ada segelintir orang yang sangat takut pada kata-kata dalam sastra.

Kehidupan seksual adalah hal yang paling tersembunyi dari manusia sebagai makhluk sosial, padahal manusia tercipta melalui proses berhubungan seks. Karya sastra bersikap sebaliknya, ia menempatkan seks sebagai sesuatu yang benar-benar hidup. Tidak heran, banyak karya-karya yang menampilkan adegan mesum yang justru terlihat sangat indah atau malah menampikannya secara brutal.

Tentu saja, seks mewakili banyak hal dalam sastra, ia bisa saja sebagai satu-satunya kebahagiaan di tengah-tengah kenyataan yang menyedihkan atau sebaliknya—kesengsaraan di tengah-tengah kemewahan.

Norwegian Wood karya Haruki Murakami menampilkan beberapa adegan seks di antara tokoh-tokohnya yang tidak lain adalah mereka yang masih berusia remaja di Jepang. Pelepasan seks seorang perempuan depresi yang ditinggal bunuh diri kekasih pertamanya, atau laki-laki yang merasa kejantanannya bisa menolong perempuan itu, dan tokoh-tokoh lainnya menjadikan seks sebagai permainan hidup karena melepaskan diri dari kesepian kronis. Haruki Murakami tidak menciptakan mesum di karyanya hanya untuk membuat senang para pembaca, kita bisa mendalami makna di baliknya—sesuatu yang sulit ditemukan jika hanya focus pada adegan luarnya saja, mungkin kita perlu ikut birahi untuk menemukan ketakutan-ketakuan yang muncul di setiap adegannya.

Belum lagi Yasunari Kawabata dalam Rumah Perawan, karya itu menonjolkan amarah terpendam dari mereka: para lelaki uzur, mereka tidak ingin mengakui bahwa kejantanannya tidak lagi mampu memenuhi keinginan isi kepalanya yang dipenuhi birahi. Keperkasaannya hancur dimakan usia.

Tidak berbeda jauh dengan penulis lelaki di era modern seperti Eka Kurniawan melalui novelnya ‘Cantik Itu Luka’, setiap adegan seks adalah penjajahan, ditampilkan secara brutal. Bagaimana seorang perempuan cantik jelita rela bersetubuh karena ‘keadaan’ memperkosanya. Tentara Jepang, tentara Belanda, orang-orang Indonesia, mereka secara berurutan memperkosa si Cantik demi membanggakan kekuasaan. Mereka kuat karena berada di atas tubuh yang lemah. Beberapa kali Eka Kurniawan menyajikan adegan seks bahkan pada keturunan Cantik—setelah kemerdekaan, namun tetap saja melalui tipu muslihat. Ya, Indonesia memang belum selesai dijajah.

Para sastrawan berbeda-beda dalam menggambarkan seks di dalam karyanya, beberapa di antaranya memakai metafora untuk menghaluskan namun ada pula yang mendeskripsikan secara vulgar.

Sastrawan membangun unsur ceritanya melalui seks, di mana tokoh-tokohnya membutuhkan narasi untuk menunjukkan eksistensi dan kedalaman karakter. Seks bukan sekedar tempelan semata dalam sastra, melainkan sebagai pelengkap. Bisa jadi tanpa seks, rasanya kisah itu bergerak tetapi tak bermakna. Kita tidak bisa melihat contoh secara praktis apa yang dimaksud si tokoh ketika memikirkan sesuatu tanpa perlakuan sama sekali.

Karya-karya Djenar Maesa Ayu, Ayu Utama atau, Elisa Vitri Handayani tergolong sangat berani dalam dunia sastra perempuan Indonesia. Karya mereka adalah bentuk perlawanan seorang perempuan dalam mendobrak tabu dan moralitas yang terbentuk sejak lama. Kejujuran pada karya-karya perempuan tersebut justru terlihat sangat menarik karena mewakili ideologi feminisme dan permasalahan perempuan yang ada saat ini.

Perempuan lebih rentan mengalami ketidakadilan karena gendernya. Maka suara perempuan dalam karya sastra dibutuhkan untuk menyuarakan betapa keadaan tidak mengindahkan kehadiran perempuan sebagai manusia seutuhnya, bukan makhluk yang belum cukup.

Sepertinya kita hanya perlu melambankan diri dalam berpikir apalagi bertindak. Jangan buru-buru mencapai orgasme sampai melupakan bahwa proses persetubuhan itu sendiri yang nikmat, yang memiliki arti sesungguhnya. Setiap desahan yang muncul adalah akibat dari sentuhan. Milan Kundera dalam novelnya berjudul ‘Kelambanan’ menasihati bahwa, … persetubuhan sendiri turun menjadi penghambat dikarenakan adanya tujuan untuk mencapai ledakan kepuasan secepat mungkin, yang menjadi tujuan murni dari persetubuhan itu sendiri.  Sangat tidak adil jika serta-merta menilai adegan seks dalam karya sastra sebagai mesum yang mengotori otak atau menjijikkan, apalagi tidak bermanfaat.

 

 

 

Iklan

Anehnya, Kita Kehilangan Empati Saat Melihat Percobaan Bunuh Diri Karena Cinta

01

Sumber: Merdeka.com

 

Dua perempuan nyaris loncat dari jembatan secara bersamaan, untungnya masih sempat ditolong mereka yang punya rasa peduli. Videonya sempat viral dan tanggapan nitizen? Oke, kita bisa menebaknya dengan mudah: menganggap dua perempuan itu terlalu bodoh mencoba bunuh diri karena diduga memperebutkan seorang lelaki yang entah tampangnya gimana, ada bahkan bilang “Tarik bajunya saja, badannya buang ke sungai, memudahkan makan buaya.”

Mungkin nitizen saat ini kekurangan bahan humor, sehingga depresi orang lain perlu ditertawai atau mereka melatih kecakapan kreatifitas perihal komentar siapa yang paling lucu (sayangnya terlalu garing untuk ditertawai).

Setiap manusia memiliki standar kekuatan sendiri saat menghadapi masalah. Itulah kenapa masalah yang sama jika dihadapkan pada orang berbeda reaksinya akan berbeda pula. Saat putus dengan kekasih hati, banyak yang memilih nyantai kayak di pantai, banyak pula yang menyendiri dalam kamar, atau memilih mati karena buat apa hidup kalau tak bersamanya.  Ilmiahnya kurang  lebih begini: stress berat apalagi berkepanjangan diduga meningkatkan kerja hormon kortisol di dalam tubuh, akhirnya hormon itu menekan kadar serotonin dan menyebabkan gejala depresi. Tahukan serotonin tugasnya apa? Itu loh yang mengatur kondisi psikologis dalam tubuh, seperti mood, perasaan, hasrat/keinginan terhadap sesuatu, dll. Jadi saat patah hati karena pasangan, stress berat mengakibatkan perasaan mereka hancur berkeping-keping dan keinginan bunuh diripun muncul sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehancuran itu.

Angka kejadian gangguan mental ini cukup tinggi, sekitar 350 juta orang di dunia mengalami depresi dan 800 ribu bunuh diri karenanya. Saat ini, bunuh diri di dunia menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada dewasa muda. Di Indonesia sendiri, sekitar 9 juta orang mengalami depresi dan datanya diperkirakan terus meningkat. Kalau melek data sedikit saja, kita seharusnya butuh empati melihat kejadian seperti itu bukan sekedar simpati apalagi mengejek.

Lagian menurut pakar psikologi, depresi itu bukan karena kelemahan iman apalagi cacat karakter. Depresi adalah penyakit mental. Tidak sepantasnyalah kita mengatai mereka karena tidak ingat Tuhan, lemah pertahanan, cengeng, lebay, jarang shalat, dirasuki setan, atau apalah-apalah yang lain itu. Penyakit perlu pengobatan bukan penghakiman.

Penyakit mental sama berbahayanya dengan penyakit fisik. Menertawai depresi orang lain ibarat gini: tetanggamu sedang berjuang melawan keganasan kanker, kau malah sibuk membodohi karena tetanggamu itu tidak becus mengolah gaya hidupnya. Yang sengaja menyerahkan dirinya pada penyakit siapa emang?

Sembuh dari penyakit tidak mudah guys, selain pengobatan rutin juga butuh pertolongan atau setidaknya dukungan dari orang lain. Tetapi emang dasarnya nitizen, budaya saling mencibir kan lagi sedang tren.

Bagaimana kalau seandainya kita berada di posisi mereka?

Ngomong-ngomong soal empati, memang tidak mudah dilakukan. Sejak kapan kita bisa mengerti nasib kucing terlantar di jalanan kalau kita tidak pernah mengalami bagaimana rasanya dibuang atau diusir? Kalau menunggu mengalaminya dulu, itu namanya simpati belum sampai ke level empati.

Empati adalah mencoba membawa diri kita untuk masuk ke dunia orang lain: memahami bagaimana perasaannya, pikirannya, keadaanya tanpa meninggalkan sudut pandang kita sendiri. Tidak perlu mengalaminya terlebih dahulu untuk bisa mengerti bagaimana rasanya jika orang yang kau cintai tiba-tiba mengkhianatimu. Mungkin pula yang mengejek itu sebenarnya tidak pernah tahu rasanya ditinggal, wong pacaran atau dicintai saja tidak pernah, yang mau ninggalin siapa? *kering bosku?

Kekurangan empati bisa jadi karena kita terlalu berpusat pada diri sendiri, sehingga terbiasa menyampingkan kepentingan orang lain. Satu-satunya hal yang menggerakkan aktivitas kita adalah membahagiakan diri sendiri, penderitaan orang lain adalah ancaman.

Giliran melihat mereka yang romantis-romantisan dengan kekasihnya, kebanyakan dari kita timbul rasa bahagia, seketika perasaan menjadi mereka muncul tanpa diundang. Eits itu bukan empati, tetapi kondisi yang menandakan kita terlalu lama menjomblo. Cinta bukan soal senang-senangnya saja, rasanya tidak adil jika penderitaan karena patah hati tidak mudah menarik empati orang lain.

 

 

Metamorfosis — Kumpulan Kemuraman Kafka

inshot_20190123_144033538[1]Membaca karya-karya Franz Kafka menyadarkan diri saya sendiri bahwa, saya belum menjadi pembaca yang cerdas. Ada banyak titik yang membuat saya harus berhenti sejenak untuk memikirkan makna di baliknya, sering kali tidak menemukannya sama sekali. Atau di setiap akhir cerita-ceritanya, saya dibuat tersentak betapa kemisteriusan Kafka tidak pernah berhenti begitu saja. Misteri yang hidup dalam tulisan Kafka mampu menghidupi cerita-cerita dalam buku ini.

Namun satu hal yang jelas dalam setiap tulisannya, yaitu: kemuramam. Justru kegelapanlah yang paling terlihat jelas di karya-karyanya. Sekilas membaca biografinya, semasa hidup Franz Kafka memang sangat muram. Dia tidak menyukai hidup secara Yahudi karena menurutnya, hidup secara Yahudi adalah hidup yang disesaki oleh aturan, logika, perhitungan, dan seonggok belenggu nilai. Tetapi ia juga tak hendak melecehkan keyahudian orang tuanya.

Penulis yang lahir di Praha tahun 1883 berdarah Yahudi-Jerman ini sangat pandai menciptakan alegori masyarakat di sekitarnya. Tentang prinsip hidup, kemunafikan, birokrasi pemerintah dan, nihilisme, semuanya terangkum di sini.

Karya-karyanya sarat akan simbol, sebut saja di dalam cerita Metamorfosis, cerpen terpanjang di antologi ini. Seorang lelaki bernama Gregor Samsa mendapati dirinya menjadi kecoak saat bangun dari tidurnya. Kecoak adalah simbol menjijikkan. Binatang itu hanya menyukai makanan basi dan tinggal di tempat berdebu. Padahal sewaktu menjadi manusia, dia hanya memikirkan kepentingan keluarganya. Bahkan di saat menjadi seekor kecoak dan kehilangan segalanya pun dia masih dan terus memikirkan kondisi pekerjaan dan finansial keluarganya. Mirisnya, dia tidak pernah ingat dirinya sendiri.

inshot_20190123_143428771[1]

Menjadi penyelamat belum tentu membuatmu diselamatkan ketika berada di titik terendah dalam hidupmu. Kira-kira seperti itulah yang terjadi dengan Gregor Samsa. Saat bisnis ayahnya bangkrut, dia menyokong ekonomi keluarganya, tetapi saat dia berubah menjadi kecoak, semua anggota keluarganya ingin menyingkirkannya.

 Kemanusiaan kerap menuhankan akal dan logika. Binatang pun hanya memikirkan cara bertahan hidup dan menghibur diri dengan perkawinan. Bertahan hidup dengan menyingkirkan segala bentuk penghalang. Begitulah yang dilakukan keluarga dan orang-orang di sekitar Gregor Samsa. Mereka hanyalah manusia biasa yang harus melanjutkan hidupnya dengan normal.

Anjing-anjing Liar dan Orang Arab, cerpen yang mengingatkan saya pada kondisi penguasa dan rakyatnya. Anjing-anjing liar yang hidup di gurun pasir dan menantikan kedatangan manusia dari Utara untuk menyelamatkannya–membantunya membunuh orang Arab yang bengis dan kejam tetapi justru dari orang Arablah, anjing-anjing liar itu mendapatkan makanan. Orang Arab melempari mereka makanan sembari mencambuknya.

“Mereka memiliki harapan-harapan gila, binatang-binatang ini, mereka bodoh, sangat bodoh. Namun kami mencintai mereka karenanya;…” Hal.300

Bagaimana jika penguasa memberlakukan kita laiknya anjing-anjing liar, yang hanya butuh diberi makan tetapi punya motif lain di baliknya. Bagaimana jika kebijakan pemerintah hanyalah bertujuan agar nampak memberi kita kehidupan, tetapi di baliknya memeras kita sedimikian rupa. Saya tidak punya referensi untuk mendukung pernyataan saya, tetapi karya sastra bisa menjawabnya, seperti yang dilakukan Franz Kafka ini.

Kumpulan cerita dalam buku ini sebenarnya adalah hidup Kafka. Kesuraman hidupnya berakar di dalam tulisannya. Itulah mengapa, sebagai pembaca kita mampu merasakan kesakitan, penderitaan, dan hidup yang tidak mengenal kebahagiaan.

 

#ReviewBuku

Judul: “Metamorfosis” terjemahan dari “The Transformation (Metamorphosis) and Other Stories”

Diterbitkan atas kerjasama Narasi dan Pustaka Promethea

 

 

The White Tiger — Aravind Adiga

Aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dengan terkurung dalam kandang, Nenek. Aku sungguh minta maaf [Hal. 304]

12

Satu fakta tentang India adalah: putarbalikkan pernyataan apa pun yang Anda dengar dari perdana menteri kami tentang negara ini dan Anda akan mendapatkan informasi sebenarnya. [Hal. 16] Novel ini kelewat jujur membusukkan negerinya sendiri. Kau akan kehilangan selera nonton Bollywood yang menampilkan adegan penyucian diri di Sungai Gangga ketika mendapati kebenaran bahwa sungai berwarna hitam itu penuh dengan potongan mayat, limbah, dan sampah menjijikkan.

Novel ini sebetulnya berbicara soal perlawanan terhadap nasib. Di India, nasib setiap orang hanya ditentukan dari di mana kau terlahir.

Harimau Putih adalah harimau langka yang hanya lahir setiap satu generasi dalam hutan. Balram–mendapat julukan Harimau Putih itu sudah ditakdirkan menjadi pelayan karena terlahir dari kasta pembuat gula-guladi desa Kegelapan. Begini, karena terlalu banyaknya macam-macam kasta di sana, jadi mereka hanya membaginya dalam dua kategori: kasta rendah dan tinggi. Dia adalah bentuk pemberontakan yang berambisi untuk membebaskan diri dari kandang ayam. Sebuah analogi mengenai kehidupan kelas bawah di India yang rela kehidupannya dipenjarakan dan diatur oleh kaum kapitalis atapuh pihak penguasa. Mereka bahkan menyugesti diri mereka sendiri dan seoah diaminkan oleh Dewa bahwa menjadi pelayan adalah suatu kebanggaan. Apa Anda mengenal Hanuman, Sir? Dia hamba setia Dewa Rama dan kami memujanya di kuil kami karena dia teladan cara melayani majikan dengan kesetiaan, cinta, serta pengabdian penuh. [Hal. 21]

Jika mau diuraikan satu per satu, novel ini mampu membungkus kehidupan social, budaya, agama, dan politik yang carut-marut di  India menjadi satu kesatuan dari sudut pandang si pelayan (supir). Dia menjadi saksi sekaligus pelaku pada akhirnya.

  1. Sosial Budaya

Saya cukup penasaran dengan sistem Matriarki di India. Beberapa film dan serial drama menampilkan sosok nenek (perempuan) sebagai penguasa dalam sebuah keluarga. Begitu pun di novel ini. Kusum, seorang nenek dengan apiknya menguras habis tenaga anak-cucunya demi kepentingan dirinya sendiri.

Selain itu, mahar perkawinan yang dari pihak perempuan kepada pihak lelaki digambarkan sebagai bentuk pemerasan yang dibiarkan begitu saja oleh adat mereka. Saya jadi punya kesempatan untuk membandingkannya dengan daerah saya sendiri, di mana kaum lelaki menyiapkan sejumlah uang tunai ataupun harta benda lain untuk dijadikan panaiq/passorong sebagai syarat sebelum disepakatinya pernikahan. Bentuk penindasan atas nama adat memang ditemukan di mana-mana.

  1. Politik

Kita hampir sama dengan mereka di mana, suap-menyuap antar entrepreneur dengan politikus dilakukan demi kelancaran bisnis. Dan masa pemilu, huff saya cukup malas membahas soal ini. Kita lagi-lagi sama. Saya biasanya mendapati di daerah saya sendiri: mereka membeli suara pemilih atau, mengatur usia anak-anak agar cukup dikategorikan sebagai pemilih.

  1. Agama

Orang India mulai meragukan keberadaan Tuhan/Dewa: 36.000.004. Dan saya menemukan fakta baru bahwa ternyata di sana, muslim termasuk dalam kasta rendah.

Tetapi ada yang harus dibayar mahal ketika Balram membebaskan dirinya.

 

Menjaga Hubungan Baik Dengan Para Hantu

Jangan menduga tulisan ini akan mengarah ke hantu komunis atau gerakan yang dianggap kiri lainnya. Tulisan ini murni cerita tentang hantu. Berawal dari cerita keluarga bahwa anak dari tante saya memiliki saudara sepupu yang saudara sepupunya diculik hantu. Disinyalir bahwa hantunya merupakan salah satu jenis kuntilanak dengan ciri berambut panjang kusut, mata berwarna api, dan jari tangan seperti habis mencelup darah–merah segar atau mungkin kecelup di botol kuteks merah. Ini bukan berita bohong. Sumbernya banyak dan terpercaya, mereka menjadi saksi cerita dari mulut ke mulut.

Kampung saya terletak di ujung selatan Sulawesi Barat dengan logat hampir mirip orang Makassar, hanya intonasinya sedikit lebih slow dan sangat mendayu. Sebut saja Polewali Mandar, daerah pelayar ulung beranak pinak. Dan kejadian itu terjadi di salah satu desa tetangga kecamatan saya, untuk menuju ke sana kita harus melewati jembatan besar, belok kanan, terus saja hingga beberapa kilometer kemudian belok kanan lagi, kalau kamu liat sawah, berhenti sejenak siapa tahu ada sapi lewat, anggap saja itu lampu merah, terus lagi sampai kamu melihat tanda perbatasan desa.

Anak perempuan yang diculik itu (saya akan menamainya Cicci saja) berusia sekitar 11 tahun. Sehabis magrib, Mama Cicci menyuruhnya membuang sekantong sampah berisi bangkai ayam. Dengan mengendarai sepeda, Cicci berboncengan dengan si adik menuju pinggiran sungai yang biasa menjadi tempat pembuangan sampah. Beberapa menit kemudian, Cicci pulang ke rumah membawa adiknya dan memarkir sepeda di halaman. Tanpa berkata sepatah dua kata, Cicci kembali pergi dengan berlari. Dia tidak balik sampai beberapa jam kemudian. Keluarga dan warga uring-uringan mencari keberadaan si Cicci. Hampir kampung ditelusuri oleh warga: sawah, kebun, hutan sempit di belakang rumah, dan pinggir sungai. Menurut keterangan warga, mereka sering melihat sekilas bayangan membelah malam secepat kilat di depan mereka atau di antara ranting-ranting pohon. Bayangan mirip Cicci tersebut melayang-layang di udara warga pun terus memburunya.

Mungkin pembaca merasakan seperti cerpen jika gaya penceritaan saya terlalu muluk-muluk seperti di atas. Tapi demi mendapatkan sedikit kesan horror maka saya mohon izin untuk melanjutkannya.

Sekitar jam 12 malam, Cicci masih dengan kecepatan sama melayang ke sana-sini kemudian entah kenapa berhenti di masjid kampung. Ketika Cicci kembali akan berlari melewati dinding tembok seakan meremehkan teori gaya gravitasi yang susah-susah ditemukan Newton, seorang warga dengan keberanianya sigap menangkap lengan Cicci dan menariknya turun dari tembok. Akhirnya Cicci dibawa pulang dengan keadaan lemah tak berdaya, dan pandangan mata kosong. Setelah keadaan Cicci sedikit stabil, dia bercerita soal hantu yang menculiknya itu. Dialah yang memberikan gambaran fisik hantu tersebut karena warga tidak melihat secara jelas fisik si tantek kunti.

Beberapa hari kemudian, seorang warga mengalami kesurupan. Dia mengaku sebagai hantu yang menculik Cicci dan menjelaskan alasan kenapa dia melakukan itu. Ternyata, saat Cicci membuang sampah bangkai, si hantu mengaku “pas kena mukaku cess”. Si tante kunti pun menghadiahi Cicci dengan membawanya melayang keliling desa. Menurut pengakuan Cicci, dia menyadari bahwa dirinya diangkat dari satu pohon ke pohon lain bahkan sempat berhenti di ujung pohon bambu.

Sehabis mendengar cerita tersebut, tengkuk saya mendadak dingin. Bapak saya yang asal usulnya dari kampung banget pernah memberi nasehat kepada saya: ketika kamu membuang sampah tepat waktu magrib, mintalah perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syaitan dan permisilah kepada hantu yang kemungkinan menempati tempat pembuangan sampah tersebut. Bapak saya juga bilang, tempat tinggal hantu itu ada di beberapa tempat: pohon, toilet,  bangunan tak berpenghuni, jembatan, atau tempat pembuangan sampah. Tapi saya bertanya-tanya, apakah hantu di kota betah menempati tempat pembuangan sampah? Masalahnya, sampah di kota berasal dari limbah beracun dan pasti tidak sehat. Berbeda dengan kami di kampung, sampah hanya berupa daun-daun kering, sisa-sisa makanan, atau sedikit jenis sampah organik lainnya, kalau ada non-organik kebanyakan bungkus Indomie. Atau ada baiknya, baik di desa apalagi di kota, kita ikuti saja saran dinas kesehatan untuk menyediakan tempat sampah organik dan non-organik, jadi suatu saat ada bangkai yang harus dibuang tidak mesti ke pinggiran sungai lagi dan kena muka hantu-hantu, kasihan mereka.

Bukan hanya di tempat sampah, hantu juga menghuni rumah sakit.  Latar belakang saya dari tenaga medis, saya sering mendengar cerita horror di rumah sakit tentang hantu yang berusaha berteman dengan manusia. Misalnya saja: pasien tiba-tiba hilang di kamar inapnya, biasanya mereka mengaku ada perawat yang membawanya pergi, atau sebaliknya perawat mengganti cairan infus di salah satu kamar, beberapa waktu kemudian diketahui bahwa pasien yang dimaksud adalah gaib dan yang tersisa hanyalah cairan infus yang menggantung di tiang. Kita sebenarnya tidak tahu apa maksud hantu suka berkomunikasi dengan manusia di rumah sakit. Apakah karena merasa kesepian saja, atau meminta renovasi atas huniannya yang dianggap terlalu gelap dan menyeramkan, bisa juga karena hantu memprotes atas pelayanan kurang baik yang selama ini dia dapatkan.

            Hampir sama dengan adab kepada hantu di jembatan. Sebagian besar warga di sini juga percaya jika sebelum melewati jembatan dengan kendaraan bermotor, klakson lah terlebih dahulu dan ucapkan salam (lagi-lagi harus permisi), agar hantunya tidak kaget-kagetan dan tidak mengikutimu.  Karena selain jembatannya kurang layak dilewati kendaraan sebenarnya, hantu juga bisa menjadi penyebab kecelakaan.

Cerita lain, kakek saya juga pernah memindahkan hantu dari rumah tante saya ke pohon yang berada hutan kecil karena dianggap sebagai penyebab sakit diantara semua saudara sepupu saya yang berjumlah 9 orang. Maaf, kakek saya bukan dukun tapi entah kenapa hubungannya dengan hantu cukup harmonis. Artinya, kakek saya menggusur tetapi memberikan ganti hunian atas apa yang beliau lakukan. Kalau kakek saya menebang satu-dua pohon raksasa di kampung, biasanya beliau memindahkan hantunya ke pohon yang berada jauh di dalam hutan biar lebih tentram dan damai. Tetapi kalau ternyata hantu yang berimigrasi tersebut sempat menghuni salah satu dari 15 miliar pohon yang ditebang manusia tiap tahunnya, apakah sedamai yang dipikirkan kakek.

Sebenarnya kita bisa menjaga keseimbangan alam semesta dengan berhubungan baik dengan para hantu, saya cukup yakin itu. Asal jangan meminta para hantu memasuki tubuh babi dan memintanya untuk mencungkil peti uang di rumah orang saja. Kalau cari duit, tetap urusan kita, cukup bergandeng tangan saja dengan mereka.

Skandal – Shasuke Endo

Kebanyakan diantara kita enggan mengakui kebejatan yang pernah sekali atau sering dilakukan. Tetapi ada juga yang membanggakannya,  bagaikan sebuah prestasi dimana orang lain tidak pasti bisa melakukannya.  Itulah manusia menurut Endo.  Kedua sisi manusia pasti berjalan beriringan. Tetapi jika keburukan itu berkeliaran sendirian tanpa kendali kita, bukankah sangat merepotkan. Haruskah kita mengakui sebagai bagian dari kita atau membantahnya?

“… Setiap orang mempunyai satu wajah yang dipakai dalam kehidupan bermasyarakat, lalu satu lagi disimpan untuk diri sendiri.” [Hal. 235].

Sehabis pulang kerja di jam padat lalu lintas kota Makassar,  saya biasanya duduk di sebuah halte depan Gereja.  Laju kendaraan nampak buru-buru,  seperti dikejar waktu. Ahli penyusup diantara peluang yang ada akan terlihat ketika jam padat lalu lintas tiba.  Jika sudah bosan melihatnya: gerak-gerik yang sama setiap harinya, pengendara yang sama atau, bunyi klaksong yang tidak putus. Saya pasti membuka sebuah novel yang beberapa hari ini mengisi tas saya. Karangan dari Shusaku Endo,  seorang penganut Katolik di Jepang dan menjadikan tokoh utamanya jug aadalah penganut yang sama bernama Suguro.

Bukan hal mudah di masanya,  mengingat sejarah pahit pemeluk Kristen di sana dengan jumlah hanya kisaran 1%.  Hal itu pula yang nampak jelas di novelnya. Bagaimana orang-orang yang mengimani kristen sulit diterima dari sisi ibadah,  pemikiran,  bahkan karyanya. “Kutukan yang menghinggapi Suguro terletak pada fakta bahwa ia harus memberikan Tuhannya seakan-akan ia bisa dipahami dengan latar Jepang sebagai kerangka,  padahal Tuhannya itu merupakan sesuatu yang terlalu kabur untuk bisa dipahami oleh kita,  orang Jepang.” Hal. 8

Lantas saya mengingat sebuah novel Endo sebelumnya: Hening yang sudah diangkat ke layar lebar, bercerita tentang seorang misionaris muda dari Portugis yang berdakwah di Jepang tetapi harus murtad ketimbang menyaksikan pembantaian kaumnya. Saya membayangkan adegan novel Hening melalui cerita Suguro pada istrinya. Saya menengok ke belakang, memandang wajah lukisan Yesus disalib di puncak depan Gereja: roman mukanya tercampur aduk antara ikhlas dan pasrah. Jumat sore,  biasanya kaum ibu-ibu melantunkan lagu doa di samping gereja yang khusus disiapkan untuk mereka latihan. Sembari mendengarkannya,  saya merasakan kegelihsan sekaligus kejujuran di novel ini.

Hal yang paling mengenakkan dari karya sastra adalah jika, ia bisa menggambarkan keadaan dan pola pikir dari daerah yang menjadi latar belakang di cerita fiksinya. Melalui novel ini, kita bisa menilai bahwa meskipun ajaran Kristen sulit diterima, tetapi mereka juga memandang bahwa penganut ajaran itu adalah manuia suci, tidak melakukan dosa layaknya mereka. Itulah yang menjadi beban tersendiri buat penganutnya. Padahal mereka hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin lepas dari kesalahan.

Suguro dibaptis di usia 14 tahun mengikuti jejak ibunya (persis kehidupan Endo yang dibaptis usia 12 tahun mengikuti iman ibunya).  Dia dikenal dengan karya bermoral yang,  kadang dianggap mengajari ke-kristen-an.  Meskipun tidak demikian adanya di pikiran Suguro. Dia berkarya untuk mengungkap sisi kemanusiaan yang tersembunyi saja. Tetapi suatu hari pada sebuah acara penghargaan kesusastraan,  dia dipermalukan oleh seorang perempuan hingga terperangkap dalam skandal yang rumit: sebuah dosa yang tidak mungkin dia lakukan.

Tokoh lain adalah Nyonya Naruse,  tenaga sukarela di sebuah rumah sakit dan menangani kebutuhan anak-anak. Karakternya keibuan tetapi di sisi lain,  dia sungguh mengerikan. Justru karakter Nyonya Naruse lah yang paling menarik di novel ini. Suguro bertemu dengannya di sebuah pameran lukisan di mana wajah Suguro dilukis dengan senyum sumbringah yang kelihatan menjijikkan. Kehidupan seks Nyonya Suguro diutarakan blak-blakan dapat dianggap sebagai dobrakan untuk mengupas hal yang tabu terutam budaya Jepang pada masa itu. Saya tidak pernah bisa membayangkan bahwa ada seorang manusia yang terangsang secara seksual karena membayangkan kekejaman dalam pembantaian manusia yang dilakukan suaminya.  Bau hangus,  jeritan-jeritan perempuan,  suara tembakan, dan bunyi letupan tengkorak terbakar justru membuat dia mengingini seks luar biasa. Jelas,  wanita itu sadomasokis. Dialah yang menuntun Suguro menemukan sosok yang selama ini dicarinya: yang menganggu ketentraman Suguro karena menyerupai dirinya dan berkeliaran di kehidupan yang tidak pantas dia masuki.

Kehidupan dipenuhi dengan hal-hal yang kontras. Menurut saya, itulah yang ingin disampaikan Endo melalui novel ini. Dan sebetulnya saya tidak menyangka kalau ternyata novel ini tergolong realisme magis. Karena kehidupan awal yang nampak biasa-biasa saja. Hidup sebagaimana manusia biasa dengan jalan kehidupan yang masuk akal. Namun pada akhirnya kita disiuguhkan cerita yang mengutak-atik pikiran untuk menafsirkan ceritany sendiri. Tidak heran jika John Walsh mengatakan bahwa Skandal adalah novel yang memesona, mengerikan, dan tersamar. Ditulis oleh pengarang yang memiliki persepsi langka dan kejujuran yang menggelisahkan.

Adzan Maghrib terdengar dari arah barat, saya bergegas menuju Masjid untuk mencari ketenangan dan meninggalkan lagu-lagu doa yang sempat membuat saya merasakan kejujuran. Novel ini saya tutup setelah membaca kalimat terakhir di biografi singkat pengarangnya: kebanyakan tokoh novel Shusaku Endo bergumul dengan dilema moral yang rumit sebagai orang Katolik.

HARAAMKHOR — Sebuah Film Tentang Konyolnya Pengetahuan Reproduksi di India

Sebagaimana cinta, kau bisa melakukan apa saja saat terjebak dalam situasi mengerikan. Kepalamu menuntut untuk segera menyelesaikannya tanpa perlu memikirkan akibatnya nanti.

vlcsnap-2017-09-13-06h08m29s20.png

Seorang murid yang kesepian menjalin hubungan cinta dengan gurunya yang tidak lebih baik dari pengecut di luar sana. Perbedaan usia bukanlah aib, yang salah karena guru itu sudah memiliki istri muda dan malah tidur dengan murid perawannya. Film hasil garapan Shlok Sharma ini sebetulnya tidak berbicara soal cinta. Kisah cinta hanyalah jalan untuk mengetahui hal yang lebih spesifik lagi di India sebut saja soal pengetahuan remaja tentang reproduksi yang masih sangat polos dan berbahaya. Betapa berbahayanya kebodohan. Film ini jelas menyinggung minimnya pengetahuan reproduksi di India. Selain murid perawan yang rela tidur dengan gurunya, singgungan lain terlihat di potongan cerita saat seorang anak medefinisikan pernikahan yang dikiranya bahwa “menikah adalah jika kalian sudah melihat tubuh telanjang satu sama lain”.  Salah satu hal yang membuat film India tidak diminati (dan banyak diminati banyak orang) adalah soundtrack-sountrack yang mendayu serta tari modern-traditionalnya, juga actor/aktris yang kelewat cakep. Kelebihan di film ini adalah kenaturalannya–menampilkan India yang sebenarnya.  Tidak akan ada pasangan yang bernyanyi di tebing, serombongan penduduk yang berjoget di alun-alun, atau adegan perpisahan di stasiun kereta. Dan kamu tidak akan menemukan Sakhrukh Khan di sini. Tapi tenang saja, acting dari aktornya menurut saya pribadi jauh lebih bagus, dia salah satu favorit saya di sana—Nawazuddin Siddiqui.

Masih ada dua tokoh lagi yang ikutan di antara mereka: penganggu, pengusik, pengintai, tetapi tidak punya salah apa-apa di cerita itu yang pada awalnya saya selalu mengira untuk apa mereka terlibat di dalamnya selain menghibur penonton selain menambah deretan kebodohan tentang reproduksi.

vlcsnap-2017-09-13-06h04m31s191.png

Mereka dua remaja lelaki yang bersahabat bagai sandal jepit, kemana-mana selalu bersama. Seorang diantaranya mendambakan gadis itu, dan tentu saja seorang lagi sebagai sahabat membantu dengan segala macam cerdik yang sayangnya tidak pernah berhasil malah lebih sering mendatangkan masalah. Banyak hal konyol yang dilakukan mereka, kontras dengan gadis kesepian itu, padahal perbedaan usai mereka tidak terlampau jauh. Ya, begitulah cinta yang tidak berbalas. Saya tentu saja tidak akan melakukan spoiler di sini, itu menganggu kode etik. Saya Cuma menyarankan agar kalian bersiap dengan segenap hati menyaksikan ending-nya karena ada hal yang sangat mengejutkan di tengah derasnya air hujan.